Friday, April 27, 2012

Rahasia

Tak ada yang perlu dimengerti, dik...
Biarkan tiap makna tenang tersembunyi
Di sudut tergelap relung hati

Jangan katakan bahwa kau mengerti
Biarkan saja semua rasa terkunci
Dan tak berharga untuk dibagi.

Karena kejujuran bisa saja nanti
Hanya memecut bagai cemeti
Melukai keheningan yang resik rapi...

Rahasia ini milikku sendiri...
Bukan komoditi ’tuk kalian konsumsi
Meskipun bisa jadi lagu atau puisi-puisi.

Sungguh tak perlu dimengerti, dik...
Toh kita bisa pura-pura tak peduli?

Apa yang perlu kita mengerti, dik?
Ini cuma rindu yang itu-itu lagi...
Yang lahir hanya untuk bersiap mati..

Sudahlah tenang dan tambatkan hati...
Usah hirau anganku yang tak tahu diri...

Kalau memang ini cinta,
Toh cinta bisa dibikin mati kapan saja...

Tak perlu senantiasa bisa dimaknai.

(Jakarta, 2004)

Friday, September 26, 2008

Dari Lebaran ke Lebaran

Betapa lamanya saya tidak mengupdate blog ini lagi. Hampir setahun lamanya...
Itu bisa dilihat dari posting terakhir saya di lebaran tahun lalu, dan sekarang sudah lebaran lagi di tahun berikutnya.

Wah... selama itu kemana saja?
Terlalu banyak yang terjadi, terutama yang berkaitan dengan kesibukan pekerjaan. Kantor tempat saya bekerja, sejak awal 2008 ini memang benar-benar jungkirbalik dengan berbagai kegiatan shooting dan editing tanpa henti... nyaris tak ada kesempatan menghela nafas...

Kesempatan beristirahat baru tiba menjelang lebaran ini, kegiatan produksi sedikit mereda, dan proyek-proyek yang bertumpuk sejak awal tahun satu demi satu telah terselesaikan.

Setelah ini Anda dapat melihat sedikit foto-foto kesibukan kerja yang mendera saya dan kawan-kawan belakangan ini...

Selamat lebaran, mohon maaf lahir bathin...


Set shooting TV program "Krama"


Berpose di set TV program "Krama


Checking voice over TV Program "Krama"


Berpose di set TV program "Manikustik"


Set TV program "Manikustik"

Friday, October 12, 2007

Lebaran

Lebaran pun tiba...
Saya menulis posting ini setelah buka puasa terakhir di bulan Ramadhan ini, dari sebuah coffee shop langganan saya, di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta.
Setelah saya berfoya-foya sedikit menggunakan THR dan bonus fee dari kantor setelah menjadi sutradara videoklip yang baru saja selesai digarap dan menunggu saat tayang.

Saya sangat bersyukur mendapat rejeki lebih di lebaran tahun ini, dibanding yang sudah-sudah, sehingga saya bisa banyak berbagi kepada orang tua dan anggota keluarga lainnya.
Walaupun tahun ini puasa saya tidak lengkap, karena ada beberapa hari yang memaksa saya untuk tidak berpuasa karena kondisi pekerjaan yang buat saya terlalu berat utk dijalankan sembari berpuasa.
Seperti yang saya katakan di posting sebelumnya, tahun ini memang puasa yang berat dibanding sebelum-sebelumnya.

Dan hari ini... saya melihat jalanan Jakarta yang begitu lengang... daerah sekitar rumah juga sepi. Toko-toko dan kios rokok sudah tutup. Tempat-tempat yang biasanya ramai beraktifitas kini sepi tanpa nampak ada kegiatan.
Daerah-daerah yang biasa sangat macet kini lancar bukan kepalang.
Terlepas dari kenyamanan dalam perjalanan, kok saya sedikit merasa sedih juga...
Rasanya agak kagok, setelah biasanya sedemikian hiruk-pikuk, kini hening.
Rasanya seperti habis merayakan satu pesta perpisahan yang sangat meriah, kemudian pesta usai dan tamu-tamu pada pulang, menyisakan si tuan rumah sendirian... jadi agak nelangsa juga...

Selain itu, bulan puasa memang selalu menjadi tradisi menyenangkan semenjak saya kecil. Atmosfirnya yang unik, kebersamaan menyambut waktu sahur dan berbuka setiap harinya... tradisi yang menyenangkan.
Saya mungkin melaksanakan puasa hanya karena ingin merasakan dan terlibat atmosfir itu saja, bukan kepada alasan-alasan religius. Saya memang sama sekali bukan orang yang religius. Banyak orang yang tak percaya kalau saya selalu berusaha berpuasa dengan baik setiap tahunnya. Mereka tahu saya tak pernah sembahyang, hampir tak pernah menginjak masjid dalam 12 tahun terakhir (dan saya juga tidak bangga akan hal itu). Itu sebabnya banyak yang mentertawakan saya kalau saya bilang saya sedang puasa.
Yang mereka tidak tahu... memang saya melaksananakannya karena sudah terbiasa. Dan memang manfaatnya ada kok, secara medis (dan tak perlu saya jelaskan di sini) puasa itu baik untuk kesehatan. Dan kalau kita melaksanankannya juga dengan kontrol emosi dan elemen-elemen lain yang konon menjadi pahala puasa, tentu saja memiliki efek baik pula pada pendewasaan emosi kita. Mungkin penjelasan logis tersebut yang membuat saya selalu berusaha berpuasa.
Sementara soal pahala, surga, malam lailatul qodar dan lain-lainnya, itu biar Tuhan saja yang menentukan apakah saya layak atau tidak mendapatnya. Bukan iming-iming itu yang penting buat saya. Tuhan pasti sudah tahu apa-apa saja yang pantas untuk umatnya... yang penting saya berusaha menjadi orang baik saja, karena saya sendiri bisa merasakan senang jika berhadapan dengan orang baik lainnya.
Well hal ini memang bukan argumentasi atau sesuatu yang perlu dijadikan wacana. Kita semua boleh punya sikap masing-masing, dan saya juga tidak merasa benar soal ini. Hehehe...

Tahun ini, saya akan mengambil cuti tambahan. Ini adalah pertama kali saya mengambil cuti, setelah saya 4 tahun bekerja di dua tempat berbeda. Hehehe... memang sudah saatnya.

Akhir kata, saya ingin mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri untuk anda semua yang merayakan.
Mohon maaf jika ada kesalahan dalam kata-kata atau perbuatan saya, disengaja ataupun tidak.

Selamat berlibur...

Saturday, September 22, 2007

I Need A Vacation... Badly...

Bukan sok sibuk, tapi benar-benar sibuk.
Tidak sempat update blog.

Setelah dari awal tahun sampai Agustus kemarin saya harus terlibat pembuatan TV Program musik sebanyak belasan episode, kemudian dilanjutkan serangkaian produksi video musik.
Dimulai dari video musik Samsons dan Cokelat yang dipesan oleh Istana Kepresidenan Republik Indonesia, guna menyambut 17 Agustus tempo hari, sekaligus sebagai persembahan pada Kontingen Garuda yang ditempatkan sebagai pasukan perdamaian PBB di Libanon.
Dilanjutkan dengan pembuatan video musik Gita Gutawa yang bertema religius untuk ditayangkan di bulan Ramadhan ini. Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan video musik Letto, yang sekarang masih dalam proses editing.
Belum lagi tugas-tugas lainnya yang masih menanti dan sedang berjalan...

Betul-betul puasa yang berat tahun ini...

Saya butuh berlibur... sungguh...



Shooting Cokelat's music video, at Halim Perdanakusuma


Rehearsing scenes for Gita Gutawa's music video


Again, rehearsing scenes for Gita Gutawa's music video


Shooting Letto's music video at MP Bookpoint


Last but not least, in bed with Nadia Saphira... :))

Monday, June 11, 2007

My Bandmate's Wedding

Tanggal 9 Juni yang lalu, saya menghadiri pesta pernikahan seorang sahabat lama. Bukan sekedar sahabat, orang ini juga adalah teman satu band saya dulu. Untuk anda yang belum tahu, beberapa tahun yang lalu saya sempat mengibarkan impian jadi rockstar di Bandung seusai kuliah. Membentuk sebuah entitas musikal, merekam demo cd berisi sekitar 4 lagu, dan sesekali manggung di acara kampus membawakan lagu ciptaan sendiri. Bahkan kami sempat menawarkan demo rekaman tadi ke beberapa record label. Berhasilkah demo tadi membawa kami menembus industri rekaman? Kalau berhasil, tentunya saya sekarang tidak akan duduk disini dengan status karyawan... :)



Our band, circa 2002, that's me with the guitar


Band kami ini cukup unik, karena sebenarnya bukan band, tapi hanya duo. Ya, anggota resminya memang hanya dua orang. Saya main gitar sedikit-sedikit, sementara teman saya ini lebih sibuk karena harus mengisi lead vocal, bass dan drum saat merekam lagu. Instrumen lain seperti lead gitar atau keyboard, kami menggunakan additional player yang bisa berubah-ubah setiap waktu, entah itu utk keperluan merekam demo ataupun di panggung.
Keunikan lain, rasanya terletak di perbedaan karakter kedua anggotanya. Saya lebih suka mengurung diri di kamar sendirian dengan gitar saya, dan beberapa hari kemudian keluar membawa satu atau dua lagu baru, untuk lebih lanjut kita garap bersama. Saya lebih senang di belakang layar, saya selalu merasa tidak nyaman dan tidak pernah punya cukup skill untuk perform di panggung, menghibur orang banyak. Sebaliknya, teman saya ini mengenal asam garam panggung sejak di bangku SMP, apakah itu sebagai pemain drum yang merupakan instrumen pegangannya yang utama, atau sebagai vokalis. Dia juga sempat menjadi anggota salah satu band yang reguler berkeliling cafe-to-cafe di Bandung dan Jakarta. So, tidak seperti saya, tampil di panggung sudah hal biasa buat dia.
Perbedaan lain, teman saya ini adalah tipe ladies' man, yang berhasil mencatat banyak nian deretan nama mantan pacar sepanjang rentang 12 tahun pertemanan kami. Bukan berarti playboy, tapi memang mencari pacar bukan hal yang sulit-sulit amat buat dia. Sementara saya, sampai sekarang track record saya membina hubungan dekat dengan wanita nyaris nol besar. Saya lebih sering soliter, a loner, yang lebih asyik hidup dengan dunia kecil ciptaan saya sendiri. Bukan berarti saya anti pacaran juga... tapi yah... memang saya (disadari atau tidak) tak pernah menempatkan effort yang cukup besar untuk urusan ini.

Menurut saya, justru karena karakter yin-yang ini, membuat kami bisa berteman baik dan berkolaborasi. He's my musical counterpart, and other than that, dalam kebersamaan di sebuah band, karakter kami ternyata saling menyeimbangkan.
Too bad, karena satu dan lain hal yang berhubungan dengan usia, dan harapan orang tua, kami membubarkan band kami sekitar tahun 2003, dan memilih terjun menjadi roda gigi korporasi, hehe.



Our demo CD cover, designed by me.


Kembali ke acara pernikahan tadi. Di benak saya sendiri sudah ada ekspektasi terjadinya sebuah reuni akbar. Semua teman-teman eksponen Bandung diharapkan hadir. Entah itu komunitas kost, komunitas kampus, komunitas warung kopi langganan, drinking buddies, sex-addicts, womanizers, bookworms, ex campus athletes, komunitas nge-band, pria, wanita, baik itu senior, junior, sesepuh, kuncen, penggembira, dan lain-lainnya, yang sudah bertahun tak berjumpa. It will be a goddamn big reunion.

Saya datang dengan mengenakan blazer di luar t-shirt putih, dengan celana jeans, dan dengan potongan rambut baru saya yang bergaya punk, mohawk. Tidak terlalu baru juga sih, saya sudah potong rambut gaya ini sekitar dua bulan yang lalu, dan setiap beberapa minggu saya pangkas ulang bagian yang mulai tumbuh. Gaya rambut yang sedikit 'gak ingat umur' memang... dan saya juga gak akan heran jika nanti banyak reaksi heboh disana.
Benar saja... setibanya di sana, pandangan tamu-tamu langsung tertuju ke kepala saya. Rekan-rekan yang sudah tiba lebih dulu pun tak kalah meriahnya menyambut kehadiran saya dengan berbagai komentar. Diantaranya:

"Masih tetep anti kemapanan nih, Ki?" kata seorang sahabat lama sambil menjabat tangan saya...
"Gila... Keep on rock and roll, Bang..." kata seorang rekan muda...
"Gila, stylish abis lo..." kata seorang rekan yang lain...
bahkan ada seorang teman lama yang bilang "Sialan, keduluan gue, baru gue mau potong kayak gitu..." hahahaha, saya tahu itu hanya sindiran saja. And I'm having fun mendengar dan berjumpa lagi dengan mereka.

Reaksi yang paling lantang adalah dari seorang sahabat lama saya, David Tarigan, yang sekarang sukses menjadi A&R dan Produser di Aksara Records, dan mungkin kalian sempat lihat juga penampilannya dulu sebagai salah satu cast di film Garasi. Begitu bertemu, dia langsung mengeluarkan tawa terbahaknya yang keras menggelegar tak henti-henti, sambil merangkul saya. "Gila lo, sejak kapan lo potong kayak gini?" katanya, di sela-sela tawa terbahaknya. Well, karena David salah satu teman dekat saya, saya tak merasa reaksi hebohnya itu mempermalukan saya. Saya tahu dia just being honest and expressive, just as the way he used to. Saya juga senang bisa berjumpa lagi setelah bertahun-tahun. Same old David... :)



Some of the gang, me on the far right...


Yes, that's me.


Reaksi-reaksi yang lain seperti "Anjrit... kenapa kepala lo?" dan ungkapan-ungkapan sejenis, hanya saya balas dengan tawa dan kedipan sebelah mata saja.

Terlepas dari acara pernikahannya sendiri, memang lebih seru reuni-nya. Banyak sekali sosok-sosok yang tak terduga, bisa berjumpa lagi. Ada yang sudah membawa anaknya, atau suami/istrinya, atau yang sudah menduda membawa pacar barunya. Ada yang berubah jadi lebih gemuk, ada yang dulu gemuk dan sekarang sukses berdiet, dan yang tak kalah mengejutkan justru mereka yang setelah sekian lama masih tak berubah juga... :)
Menyenangkan. Sangat overwhelming... indeed.
Saat berfoto bersama, rombongan kami merupakan rombongan dengan jumlah terbesar, sampai pelaminan penuh sesak.



The happy couple...


Akhirnya acara usai. My rock n roll counterpart sudah menemukan belahan jiwanya, dan siap mengarung samudera kehidupan yang baru. Congrats, bro... all the best luck for you guys. I really enjoy the party.

And now, I'll quote a little part of song lyrics from one of my favorite band, Marillion...
"all the best freaks are here, so stop staring at me.." :)


( thanks to Abraham for the wedding party photos, you can check more of Abraham's photography works by visiting tripleafotograf.blogspot.com )

Tuesday, April 03, 2007

Enam Hari di Malaysia

Saya cukup beruntung, dapat ikut menjadi bagian dari tim konser 3 Diva (Ruth Sahanaya, Krisdayanti, dan Titi DJ) di Stadion Putra, Bukit Jalil, Malaysia, tanggal 25 Maret yang lalu. Sebenarnya kantor tempat saya bekerja memang sudah terlibat pembuatan konser 3 Diva sejak pertama kali mereka show di Jakarta setahun yang lalu, dan juga terlibat tour mereka ke Bandung, Surabaya dan Bali. Namun ini kali pertama saya ikut diberangkatkan kantor untuk touring ke luar negeri.

Apa yang saya kerjakan di Malaysia? Sebenarnya tim kantor saya bertugas untuk dua hal.
Tugas utama, seperti yang juga kami kerjakan di konser 3 Diva yang sudah-sudah, adalah sebagai tim multimedia untuk konsernya sendiri, yaitu menembakkan visual art / motion graphic dengan projector ke panggung, di saat pertunjukan.
Tugas kedua, khususnya untuk show di Malaysia ini, adalah merekam kegiatan ketiga Diva selama di Malaysia, meliput semua ‘behind the scene’ dan ‘the making of’ konser itu sendiri.
Meskipun saya juga ikut terlibat dalam pembuatan visual art untuk show-nya, tapi saat ini saya ditempatkan untuk tugas yang kedua, secara lebih spesifik adalah mendampingi pimpinan saya untuk meliput semua aktivitas yang dijalani dalam rangka konser 3 Diva di Malaysia ini.

Tim kantor kami yang berangkat ada lima orang, tiga orang untuk tim multimedia, dua orang untuk tim liputan. Namun total tim Indonesia yang diberangkatkan 90 orang, didalamnya termasuk tim manajemen, wardrobe artist, hairstylist dan make-up artist untuk masing-masing Diva, pemain band, dancers, awak panggung, lighting, sound, juga media partner dari infotainment, majalah dan suratkabar. Jumlah 90 orang ini merupakan rekor untuk jumlah tim yang diberangkatkan untuk artis Indonesia yang show keluar negeri.
Jika saja kita menggunakan pemain orkestra dari Indonesia, tentunya jumlah tim akan membludak jadi lebih besar lagi. Mungkin demi alasan efisiensi, orkestra nanti memakai pemain dari Malaysia.
Kami akan tiba di Malaysia tanggal 21 Maret, melakukan persiapan, pembangunan panggung dan latihan-latihan, lantas show di tanggal 25, dan pulang ke tanah air tanggal 26.

21 Maret, semua tim berkumpul di bandara Soekarno-Hatta dari jam 8 pagi. Sesuai tugas saya, maka jadwal kegiatan tim saya harus selalu seiring para Diva, agar dapat merekam mereka secara lebih up-close. Sejak di bandara, kami sudah mendampingi mereka di vip lounge, dan kamera sudah mulai rolling. Ini adalah pertama kalinya saya bisa demikian dekat dengan ketiga Diva tersebut sekaligus, meskipun sebelumnya saya pernah terlibat kegiatan shooting untuk Ruth Sahanaya dan Titi DJ secara terpisah, namun mendampingi ketiganya secara bersamaan merupakan exciting moment untuk saya. Pimpinan saya memperkenalkan saya pada ketiganya, sekaligus memberikan gambaran tugas yang akan kami lakukan, agar mereka bisa faham dan tidak bertanya-tanya jika akan ada sosok saya (yang notabene belum mereka kenal) yang akan selalu mengikuti aktifitas mereka selama di Malaysia nanti.

Sekitar tengah hari, kami mendarat di Kuala Lumpur. Kami dijemput oleh empat mobil (brand new!) resmi berlogo 3 Diva yang disediakan pihak sponsor, ditambah dua buah bis. Perjalanan ke hotel cukup panjang. Hotel kami terletak di daerah Bukit jalil, satu daerah dengan lokasi konsernya nanti. Bukit Jalil itu memang tidak di pusat kota, tapi sudah agak diluar Kuala Lumpur. Jaraknya kira-kira sekitar Jakarta-Bogor atau Jakarta-Karawaci lah.



Di depan mobil resmi 3 Diva dan di depan Rolls Royce... :)


Saya cukup tercengang, hotelnya sangat besar… and I mean sangat sangat besar. Entahlah, tanpa maksud berlebihan, mungkin lebih besar dari hotel manapun di Indonesia. Dan bukannya cuma satu hotel besar itu, tapi ada dua yang berdekatan, masih dibawah satu pengelola. Kedua-duanya menjadi hotel resmi kami, tim Indonesia ditempatkan terpisah antara tim artis dan tim produksi di masing-masing hotel. Di area antara kedua hotel dipisahkan oleh semacam danau dan sungai buatan yang sangat luas, dan disediakan water taxi berupa kapal kecil untuk bepergian, entah menyeberang dari satu hotel ke hotel lainnya, atau untuk memasuki sebuah mall yang terletak di dekat situ, yang dikelola juga oleh pihak yang sama dengan pengelola hotel. Betul, saya tadi bilang ‘memasuki’. Sungainya masuk sampai ke dalam mall…



Palace of The Golden Horses Hotel


Di hari pertama, jadwal sudah ketat. Tak lama setelah kami settling down di hotel, para Diva sudah harus bergerak lagi untuk live interview di sebuah stasiun radio, Sinar FM. Keluar dari stasiun radio tadi, hari sudah petang dan hujan cukup besar. Kami harus kembali ke hotel, untuk menghadiri welcoming dinner untuk semua tim Indonesia, yang diprakarsai oleh pihak promotor Malaysia. Malamnya, saya menjenguk ke lokasi konser, kegiatan pembangunan panggung di sudah dimulai, dan music director kita, Erwin Gutawa, sudah harus memimpin latihan pertama untuk para pemain orkestra.

Kembali ke hotel, sudah lewat tengah malam. Setelah mandi air hangat, saya masih perlu mengecek peralatan kami. Ini adalah hal yang harus saya lakukan setiap harinya saat semua kegitan usai, sebelum tidur. Men-charge ulang baterai kamera, membersihkan lensanya, mengecek durasi kaset yang tersisa, labeling kaset yang sudah terpakai, dan lain-lain agar semua siap untuk kegiatan esok hari. Saya naik ke ranjang, dan menonton tv sampai ketiduran…

22 Maret pagi, breakfast di hotel. Di ruang makan sudah banyak rekan-rekan rombongan kami yang lain, bahkan diantaranya sudah selesai sarapan. Saya makan beberapa potong pancake dengan maple syrup, dilanjutkan dengan roti panggang dengan selai strawberry, dan segelas orange juice. Sebagai penutup, saya memesan secangkir kopi untuk menemani beberapa batang sigaret,

Hari ini jadwal para Diva adalah tour ke beberapa media. Yang paling awal adalah interview di gedung New Strait Times Publishing, untuk suratkabar Harian Metro. Disitu juga hadir tiga biduanita Malaysia yang akan tampil sepanggung dengan 3 Diva saat konser nanti: Noryn Aziz, Dayang Nurfaezah dan Nurul. Interview dilanjutkan dengan meet and greet sekaligus lunch dengan para staff dan pimpinan disitu.
Bicara soal makan, jujur saja selama kunjungan di Malaysia ini lidah saya tak kunjung cocok dengan masakan disana. Walaupun kurang lebih sama jenisnya dengan makanan Indonesia, tapi mungkin ada cara pembumbuan atau cara memasak yang berbeda. Bukannya tidak enak, tapi antara ekspektasi saat baru melihat bentuk makanannya dengan rasanya ketika sudah di lidah, agak berbeda.



Merekam 3 Diva di Harian Metro


Next, kita harus menuju satu stasiun radio lagi, Suria FM, untuk interview para Diva. Nah, dibanding stasiun radio yabg sebelumnya, yang ini lebih menarik. Pertama, disini tempatnya DJ KC Ismail (kalo gak salah tulis namanya begitu), seorang penyiar Malaysia yang punya antusiasme sangat besar terhadap musik Indonesia. Dia salah satu yang paling giat mewartakan musik Indonesia di Malaysia, sering pulang pergi ke Indonesia untuk mendapatkan update perkembangan musik Indonesia, dan bahkan konon dia juga berteman dengan Ahmad Dhani, pentolan band Dewa 19.
Kedua, di radio ini lebih banyak staff cewek yang cantik-cantik dan lebih fashion-conscious dibanding di radio sebelumnya…

Disini saya juga sempat nongkrong-nongkrong sejenak dengan seorang personal security 3 Diva. Kami ngobrol-ngobrol di kedai makan pinggir jalan, sambil minum teh tarik dan merokok. Dia sempat cerita pengalaman seru mengawal artis-artis luar negeri yang datang ke Indonesia, diantaranya yang terbaru adalah Muse dan Westlife. Masing-masing punya cerita lucu dan menjengkelkan tersendiri.

Setelah ini kita harus menuju sebuah stasiun tv, NTV7, karena malam harinya 3 Diva menjadi guest sekaligus perform satu lagu di sebuah talkshow yang disiarkan secara langsung. Disana juga akan ada acara dinner. Perjalanan menuju kesana, lalu lintas macet bukan kepalang, ‘traffic sesak’ menurut istilah mereka. Tak beda dengan Jakarta, ternyata di Kuala Lumpur pun kemacetan merupakan hal rutin. Satu perbedaan besar adalah, tak ada kendaraan yang sradak-sruduk, sodok kanan-kiri sesuka hati, nyelap-nyelip secara ofensif, ataupun membunyikan klakson penuh amarah. Pengguna jalan lebih tertib, lebih sabar, sehingga meskipun macet, masih bisa agak nyaman. Apalagi pemandangan kota juga cukup menghibur. Dibanding Singapore yang terlalu steril suasananya, KL sedikit lebih hidup. Monorail dan kereta api yang melintas lewat jalur layang di atas kita asyik dilihat. Hal lain yang paling signifikan, tentu saja, jalanan bersih dari sampah, emisi gas buang kendaraan bermotor juga terkontrol sehingga tak ada kendaraan bobrok berpolusi tinggi yang menggangu kenyamanan.

Selesai penampilan di talkshow, kami semua mulai jenuh atau sedikit kelelahan. Mas Anang, suami Krisdayanti sempat melempar ide, agar sebelum pulang keempat mobil rombongan mampir ke Bukit Bintang, semacam sebuah area perbelanjaan dan hiburan, untuk refreshing. Namun hari sudah malam, dan dua dari ketiga Diva memilih pulang ke hotel. Akhirnya acara dibatalkan, hanya satu mobil yang berisi Krisdayanti, suami, dan staffnya saja yang ke Bukit Bintang, sementara mobil lainnya, termasuk saya, langsung kembali ke hotel. Kami mampir sejenak ke 7 Eleven, untuk membeli beberapa botol bir dan snack, dan akhirnya kami menutup malam ini dengan nongkrong bareng para personal security dan beberapa staff artis di salah satu kamar di hotel kami.

Esok harinya, seperti biasa, breakfast di hotel. Seperti biasa pula, saya memilih menu-menu ringan seperti bubur ayam, atau roti panggang dengan ham dan sosis, dan juice. Tak lupa secangkir kopi untuk menemani rokok.

Selama tanggal 23 dan 24, kegiatan 3 Diva tak sebanyak hari-hari sebelumnya. Kegiatan mereka lebih banyak diisi dengan latihan di venue konser. Selama dua hari itu, kegiatan selain latihan diantaranya adalah social visit ke sebuah panti asuhan, dan tampil sejenak di acara tv Akademi Fantasi-nya Malaysia di Astro TV.
Diluar jadwal resmi, saya sempat mengikuti Titi DJ beserta staff dan ketiga anaknya, shopping ke mall KLCC Suria, yang kurang lebih mirip-mirip Plaza Senayan. Tak terlalu istimewa, selama dia sibuk belanja, saya hanya mengikuti sambil ngobrol-ngobrol dengan personal security-nya. Saya tidak merekam di dalam mall, karena ada tanda larangan menggunakan kamera di dalam gedung, Meskipun saya lihat beberapa ABG Malaysia memotret dengan kamera saku, namun saya memilih amannya saja, daripada ditangkap satpam di negeri orang. Saya hanya merekam beberapa momen-momen sepanjang perjalanan, dan merekam suasanan kota Kuala Lumpur dari dalam bis.

Satu peristiwa menarik adalah, tanggal 24 Maret itu hari ulang tahun Krisdayanti. Maka pada tanggal 23 malam, panitia sudah menyiapkan surprise party di Polo Club, sebuah klab yang ada di dalam hotel. Lewat tengah malam, seusai makan di restoran jepang, KD digiring ke Polo Club, dan disana KD dikejutkan (walaupun rasanya dia sudah bisa menduga dan tak terkejut lagi), dengan rombongan yang sudah berkumpul, lengkap dengan kue ulang tahun. Kejutan sebenarnya adalah, ternyata datang pula tamu istimewa yaitu biduanita Malaysia yang juga populer di Indonesia, Siti Nurhaliza, bersama suami. Kejutan berikut, ternyata datang pula beberapa personil band Nidji (yang ternyata digandrungi oleh KD), juga membawa kue ulang tahun. Memang kebetulan, Nidji baru saja melakukan launching album mereka di Malaysia.
Partynya cukup meriah, kami minum-minum dan makan kue ultah. Walaupun bisa bebas memesan minuman alcohol apa saja, termasuk wine, tapi saya hanya memilih bir. My favorite beverage. Sembari minum, kadang saya bergantian dengan atasan saya menghandle kamera, merekam momen-momen tertentu. Dan malam itu, saya dapat sun pipi kanan kiri dari Krisdayanti. Asyik…

Mendekati hari H, praktis kegiatan kami lebih banyak di venue konser. Saya dan atasan saya lebih banyak merekam kegiatan latihan 3 Diva di panggung, aktivitas backstage dan kegiatan produksi lainnya. Satu hal yang menarik dalam pembangunan panggung di venue, ternyata crew-crew lokal Malaysia bekerja dengan kecepatan yang jauh dibawah crew Indonesia. Dibandingkan dengan waktu 3 Diva show di Jakarta Convention Center, waktu yang dibutuhkan untuk crew Malaysia membangun satu panggung yang sama desainnya dengan panggung di Jakarta, adalah 3 atau 4 kali lebih lama dibanding waktu yang dibutuhkan crew Jakarta. Jadi, kalo crew malay baru kelar satu panggung berdiri, crew Indo sudah bisa kelar berdiri tiga atau empat panggung yang sama.
Padahal secara infrastruktur, kecanggihan dan ketersediaan peralatan, sistematika kerja seperti loading dan un-loading barang ke dalam venue, semuanya pasti lebih tertata dan lebih advanced dibanding kita. Jay Subyakto, art director konser ini, agak kecewa dengan kinerja crew Malaysia. Dan dia sempat berkomentar lucu, bahwa ternyata orang Malaysia tak lebih pintar dari Indonesia, tapi kita ternyata lebih bodoh juga, kenapa bisa tertinggal dan mengakui kemajuan Malaysia. Tanpa berniat membandingkan mana lebih jago, ini sekedar intermezzo saja.


Di red carpet konser 3 Diva dan di kompleks Stadium Bukit Jalil

Untuk show-nya sendiri di tanggal 25, karena saya sudah menyaksikannya beberapa kali dengan format yang sama di Indonesia, mungkin saya agak malas menceritakan lagi disini. Kecuali mungkin saya perlu tambahkan, ada part di pertunjukan yang khusus tribute untuk dua biduanita Malaysia yaitu Sheila Majid dan Siti Nurhaliza, dimana 3 Diva membawakan lagu-lagu mereka berdua secara medley. Di layar LED besar di sebelah panggung, nampak keduanya diantara penonton, dan mata Sheila Majid berkaca-kaca terharu.
Hadir juga diantara penonton, mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahatir Mohammad. Dan tentunya keluarga para bangsawan-bangsawan Malaysia dan artis-artis lokal.

Setelah pertunjukan, seperti biasa, ada party pasca-pertunjukan yang bertempat di ‘skybox’ stadium konser ini. Skybox itu adalah ruangan kaca besar di paling atas stadium, yang biasa digunakan untuk menonton oleh para VVIP seperti pemilik klub dan board of director dari klub basket atau sepakbola yang bertanding di stadium itu. Party-nya sangat heboh, hampir semua crew panggung, tim produksi dan para dancers berpesta dan menari sampai jam empat pagi. Bahkan seorang anggota tim membawa pulang banyak botol-botol minuman yang belum sempat dibuka.



Foto-foto panggung saat show 3 Diva


26 Maret, hari ini kami akan kembali ke tanah air. Kita bisa bangun agak lebih siang, sarapan dengan santai, mengemas barang-barang dengan lebih santai juga, karena penerbangan saya kebetulan petang. Tugas terakhir saya disini adalah merekam momen kepulangan para Diva dan rombongan Indonesia lainnya di lobby hotel. Dan selesailah sudah…


Kuala Lumpur International Airport, going home...

Secara keseluruhan konser ini berjalan lancar dan menyenangkan. Terutama dari cara pihak Malaysia memperlakukan kita dengan baik. Sangat baik. Mungkin kurang lebih begini pula rasanya kalau artis kelas internasional touring ke luar negeri ya… penuh privilege. Dan beberapa hari kemudian, saya mendapat kabar review-review bagus dan membanggakan dari berbagai media di Malaysia tentang konser ini. Well done!!


(all photos are personal property, except photos of the stage during concert are courtesy of Planet Design Indonesia)

Saturday, March 03, 2007

Sehat Itu Indah

Baru saja kembali setelah hampir seminggu terkapar, opname di rumah sakit, karena demam berdarah.
It sucks. It sucks big time. Pekerjaan terbengkalai, uang terkuras... Nyamuk keparat.

Memilih rumah sakit yang tidak tepat, dengan SOP (Standard Operation Procedure) yang rendah, perawat-perawat yang tidak tekun, kamar perawatan dan kamar mandi yang tidak higienis, plus tetangga pesakitan yang menjengkelkan... shit... bukannya cepat sembuh, malah bisa tambah mampus dirawat disitu.
Sekarang sudah bisa beraktifitas, walalupun masih belum se-trengginas sebelumnya, dan tangan kanan-kiri masih agak bengkak, bekas ditancep selang infus berhari-hari.

It's good to be back... damn good!!