Wednesday, November 29, 2006

three decades of... whatever...

Hari ini, 29 Nov, kebetulan usia saya genap meginjak 30 tahun(wah, sudah lumayan banyak ya..).
Seperti biasa di tahun-tahun sebelumnya, masih tanpa hip hip hura, peluk cium, atau kue-kue. It's just business as usual. Saat bangun pagi tadi dan menyalakan handphone, seketika beberapa sms ucapan selamat masuk bergiliran. Saya membalas seperlunya. Sampai saya berangkat ke kantor, ternyata, seperti biasa juga, ibu saya lupa bahwa saya ulang tahun hari ini, hehehe. No problem for me. She's beyond all of those little details, I know she meant no harm, and always wishing all the best for me every single seconds.
Sampai di kantor dan membuka email, beberapa ucapan selamat juga ada di inbox saya.

Thirty is quite a big number, dont you think? Apa yg seharusnya terpikir oleh saya hari ini? Retrospeksi? Membuat rencana-rencana?
When I'm 17, i've never thought or imagined that I could be 30. Even when I'm 25, still, I'm not thinking about being 30. I don't have any idea. I'm not the type of guy that enjoy making plans, resolutions, or that kind of stuff. I'm just taking it one bite at a time, living it one day at a time.

Tahun lalu, saat ultah yang ke 29, menjadi satu turning point buat saya. Banyak perubahan-perubahan yang saya lakukan, atau saya alami tanpa disadari, yang somehow cukup banyak menghasilkan pergulatan-pergulatan emosional, baik untuk saya pribadi ataupun yang berhubungan dengan orang-orang lain. Sehingga momen ultah tahun lalu menjadi menarik untuk ajang berbagi dan retrospeksi. Juga jadi ajang untuk mengalirkan beer bagaikan sungai... hahaha...

Sekarang, terlepas dari having a new job and a new tattoo, basically gak banyak romantika yang cukup layak untuk saya renungi, atau saya jadikan bahan kontemplasi.
Dan jika melihat jauh ke belakang, trying to look at the big picture, ternyata after changes upon changes... we are, more or less, the same... :)

So, for today, I guess all I can do is to feel lucky. That's all.
Yes, I'm 30 and I'm so damn lucky...

Cheers,
The Birthday Boy

Monday, November 27, 2006

Obsessed...

I'm posting this one at the same date as I wrote it two years ago.

----------------------------------------------------
SUNGGUH...

Setiap kali kau melintas di hadapanku,
Membuat rumpun ilalang runduk tersipu...
Aku tidak merasakan apa-apa...

Setiap kulihat kau tersenyum,
Mengerjapkan bintang seangkasa raya...
Aku tidak merasakan apa-apa...

Setiap kali kita bicara...
Menukarkan satu ataupun seribu kata...
Aku tidak merasakan apa-apa...

Setiap kulihat kau termenung,
Menyimpul makna pada hari yang mendung...
Aku tidak merasakan apa-apa...

Setiap kutahu kau menangis,
Sendu merintih laksana rintik gerimis...
Aku tidak merasakan apa-apa...

Setiap kudengar kau tertawa,
Menyapukan pelangi pada lukisan semesta...
Aku tidak merasakan apa-apa...

Sungguh...
Aku tidak merasakan apa-apa...

Kecuali jadi hancur luruh bagai debu...
Karena kau bukan milkku.
Sungguh.

(Jakarta, 27 Nov 2004)

Friday, November 24, 2006

Enjoy The Silence...

"Words are very...
unnecessary...
They can only do harm..."

(Depeche Mode, Enjoy The Silence)

--------------------------------------------

I
Malam tadi cuma ada kau dan aku…
Walaupun kosong dan tanpa kata…
Tapi tak pernah sia-sia.


II
Aku tak menawarkan apa-apa
Lewat beberapa baris kalimat ini
Aku juga tak berharap kau mengerti.

Aku cuma ingin dekatmu.
Titik.


(Bandung, 1997)

Tuesday, November 21, 2006

blink...

Amazing how...
just in a blink of an eye
you could miss a lot...
almost the whole freak-show...

Amazing how...
just in a blink of an eye...
there has been too many secrets...
too many useless sweet-talks...
too many taxicab silence...
too many post-midnight insecurities
...
too many street-corner threw-ups...
too many bathroom urgencies...
too many hellos...
too many goodbyes...

it makes me forget...
to count how many curls are there in your hair...


(jakarta, 30 agustus 2005)

Monday, November 20, 2006

Hanya Pada Bir Aku Rela Berbagi...

I.
bagaimana lagi bisa kutemukan cara
selain dengan bir dan kata dusta...
untuk bisa luruhkan rasa
yang kian meragi dihantar masa...

Jika ini bukan cinta ternyata...
maka dimana lagi kucari makna...
tentang rindu yang hadir senantiasa
menggoda batin yang rapuh menua?

O, pujaan hati...
andaikan hamba boleh sembunyi...
atau jadi buta, bisu dan tuli...
mungkin takkan jadi serumit ini...

Ah, malam tlah larut ternyata...
sudah habis kaleng bir ketiga...
kau belum mau pergi jua...

Mau apa?


II.
Kau jadikan aku seorang pengecut
tak berani lagi menatap matamu...
tak berani terlalu banyak tegur sapa...
tak berani jadi diri apa adanya...

perasaan yang lepas tak terjaga...
menjelmakan jurang yang mestinya tak ada...
jika cinta hanya jadi tembok saja bisanya...
maka lebih baik cinta itu mati saja.

kau jadikan aku seorang penipu...
bermain watak bagai sandiwara..
dengan pupur dan gincu sembunyikan luka...
siapa membodohi siapa?

rasa ini mau dibawa kemana?
(bunuh saja! bunuh saja!)


III.
O, bodohnya aku masih merindu...
membiarkan hati sesat tak tentu...

Jika cinta adalah batu,
pasti sudah kupahat jadi patungmu...
kuhadiahkan nanti untukmu
lantas dibanting pecah oleh pacarmu...
seperti drama televisi saja...

ah, bir-nya kurang ternyata...


IV.
Rindu di hati berbiak lekas...
beranak-pinak bagai kelinci...
yang cuma jadi pakan serigala.

lantas untuk apa repot mendamba...
jika rindu hanya berbuah sia-sia...

Mari cari warung terdekat...
Siapa tahu masih jual bir disana.

(Jakarta, 20 Juni 2004)

Wednesday, November 15, 2006

Mosaik Untuk Sahabat

Sahabat...
ingin kuwartakan padamu
tentang hening batu trotoar
yang disapu kerling kerlap merkuri
ketika kubakar lagi sebatang sigaret
seusai lembur...

tentang kelokan jalan yang tak asing
menuju keremangan malam
tempat kucing-kucing liar menatap waspada
ditingkahi musik dangdut dari pangkalan ojek
seusai tamasya...

Sahabat....
ingin kuwartakan padamu
tentang biru lebam wajah di cermin
yang kerap kalah ditinju realita
kala orgasme hanya dihitung dari tabel dan grafik neraca..

tentang keringat dan air mata
yang pernah saling kita tukarkan
tatkala waktu berjingkat menyelinap pergi...
meninggalkan jejak kenangan..

Sahabat...
ingin kuwartakan padamu
tentang memori dan melankoli
yang menjadi candu campuran kopi
menelurkan syair-syair menjelang petang
melihat kereta kencanamu datang

tentang lampu merah di kolong jembatan
yang jadi perhentian rutinku
tempat mengemasi harapan-harapan
di celah dengung klakson angkutan kota...

Sahabat...
ingin kuwartakan padamu
tentang hujan malam kemarin
yang meluruhkan debu dari dedaunan
menggenangkan comberan-comberan
yang kuterjang dalam perjalanan pulang

tentang gelak tawa
yang sempat memberi bara
pada tungku antara raga kita
menghantar hangat tuk kita berdiang
melewati bekunya masa...

Sahabat...
ingin kuwartakan padamu
tentang kebohongan dan kejujuran
yang kita jadikan pusaka maha sakti
untuk menghibur dan menyakiti

ingin kuwartakan padamu
tentang gemuruh jalan bebas hambatan
yang melantunkan kidung pengantar tidurku
hingga namamu terucap dalam igauan
tergelincir dari ujung lidahku...

"Sahabat.... maafkan aku..!!!"

(Jakarta, 18 sept 2005)

Monday, November 13, 2006

Once There Was A Sultan Of Swing..


Familiar dengan nama Mark Knopfler?
Dia salah satu figur yang dihormati di dunia musik. Memulai karirnya sebagai gitaris, vokalis dan penulis lagu utama kelompok Dire Straits yang sangat populer sebagai band beraliran country-rock di akhir era 70-an sampai 80-an. Menelurkan banyak hits, mulai dari Sultan Of Swings, Telegraph Road, Tunnel Of Love, etc…


Dire Straits' Live Aid Poster, 1985


Namun yang paling booming adalah ketika Dire Straits merilis album Brothers In Arms di akhir era 1980-an (saya lupa tahun tepatnya), dimana di album itu ia menulis lagu Money For Nothing bersama Sting (Sting juga menjadi guest star di lagu tersebut). Lagu itu menjadi hit dunia dan video-nya sangat populer.

Semenjak kesuksesan Money For Nothing, Dire Straits tak banyak merilis album, Knopfler banyak bersolo karir sebagai penulis musik utk film layar lebar, dan cukup sukses juga. Antara lain dia menggarap musik untuk film Cal, Local Hero, dan Wag The Dog (sebuah komedi satir tentang politik Amerika yg dibintangi Dustin Hoffman dan Robert DeNiro).


Mark Knopfler, 1992

Terakhir, waktu saya kelas satu SMA, Dire Straits menelurkan album On Every Streets, yang walaupun cukup menarik, namun disayangkan tak berhasil menampilkan kualitas seperti masa jayanya dulu. Selepas itupun, Dire Straits hanya merilis koleksi2 lama mereka seperti rekaman live, atau kompilasi. Mark Knopfler sempat melempar album solo lagi tahun 1996 yang berjudul Golden Heart. Sampai saat ini Knopfler masih aktif mengeluarkan album-album solo.

Ada kabar yang mengatakan, bahwa sebelum Knopfler menjadi artis rekaman, konon dia adalah seorang guru bahasa inggris di sebuah sekolah menengah. Mungkin oleh sebab itu, bisa dibilang dia adalah seorang penulis lirik lagu yang unggul di generasinya. Storytelling-nya kuat, bahasanya selalu tertata, puitis, dan seringkali memiliki rhyme yang baik.

Yang akan saya kutipkan untuk anda adalah, salah satu lirik lagu sederhana namun indah yang pernah dibuat Mark Knopfler, dari album solonya Golden heart itu tadi...
Rhymingnya bagus, seperti bisa kalian simak persamaan bunyi di akhir tiap baris secara bergantian, dan dia bisa mempertahankan rhyme itu dengan tanpa kehilangan grip terhadap kewajaran dan alur cerita lagu. Excellent..
----------------------------------



A NIGHT IN SUMMER LONG AGO (Mark Knopfler)

My lady, may I have this dance…
Forgive a knight who knows no shame
My lady, may I have this dance…
And lady may I know your name

You danced upon a soldier’s arm
And I felt the blade of love so keen
And when you smiled you did me harm
And I was drawn to you, my queen…

Now these boots may take me where I will
Though they never shine like his
There is no knight I would not kill
To have my lady’s hand to kiss…

Yes and they did take me through the hall
To leave me not one breath from you
And they fell silent one and all
And you could see my heart was true

Then I did lead you from the hall
And we did ride upon the hill
Away beyond the city wall
And sure you are my lady still

A night in summer long ago
The stars were falling from the sky
And still my heart, I have to know

Why do you love me, lady, why…

Friday, November 10, 2006

A Bouquet of Nonsense for My Baby


Apa yang aku lakukan disini…
Membunuh waktu yang tak mati-mati...
Dengan kentang goreng dan kopi

Memanjakan angan yang kian hari...
Kian lepas kendali....

...angan tentangmu.

Kesendirian ini...
berbiak dan menjangkiti
Bagai virus penyakit berbahaya...

Kesendirian yang kujaga...
Lebih luhur dari agama...

Kesendirian ini...
Menjadi taman persembunyian yang asri...
Lantas kupetik bunga-bunga dari taman ini...
Kurangkai jadi nonsens yang tengah kau baca...

Kukoyak lagi luka-luka...
Setiap inci dan jengkalnya...
Karena permainan kita
Belum mendengar tiup sangkakala...

Aku masih mampu beraksi...
Jadi raja atau jelata...
Sebut saja...
Aku bisa.

Karena hanya dari mengenal luka,
Maka kita bisa memaknai bahagia.

Aku...
Kamu...
Bukan kita.
Takkan jadi kita.

Tak mengapa...
Karena keindahan cinta...
Salah satunya adalah saat dimana
Kita tak peduli kalau kita jadi gila...

Aku...
Kamu...
Bukan kita.
Takkan jadi kita.

Tak mengapa...
Karena luka adalah rekan maha setia...
Yang mengingatkan senantiasa...
Bahwa bahagia menanti di ujung sana...

Permainan ini...
Jangan biarkan usai dulu...
Aku masih menunggu...
Tepuk tangan darimu...

(Jakarta, 2004)

Thursday, November 09, 2006

Ada Apa Denganmu?

Pembaca yang budiman...
Jika kalian mengikuti perkembangan musik indonesia belakangan ini, tentu tak akan luput dari perhatian anda, tentang perpecahan salah satu band dalam negeri yang dalam beberapa taun terakhir mencetak kesuksesan fenomenal, yaitu Peterpan. Pemecatan dua orang personilnya banyak menarik perhatian dan jadi sirkus media juga.

Saya gak terlalu mendengarkan musik Peterpan, kalo boleh jujur, kecuali lagu2 yang memang secara berlebihan mendapat jatah airplay di televisi maupun radio. Bukan berarti lagu mereka saya bilang jelek, tapi memang saya bukan fans, itu saja.

Namun yang menarik adalah pembahasan2 tentang peristiwa pemecatan tadi. Apa yg sebenarnya terjadi? Saya sempat membaca pembahasan di sebuah mailing list yang saya ikuti... dan obrolannya berkembang menjadi lebih luas daripada sekedar Peterpan. Tapi industri musik di tanah air. Saya coba rangkum juga dengan hasil obrolan saya dengan teman2 saya yang lain, dan bahas lebih jauh di bawah ini...

Kalo tepatnya kenapa sampe pecah, saya gak tau. Kalo dari press conference peterpan (yang menurut saya terlalu berisi alasan2 diplomatis), krn perbedaan visi musik lah, kurang kontribusi dalam penciptaan lagu lah... dll

Tapi ada juga yg bilang, karena uang. At this point,masing2 personil udah pada mapan, udah pada kaya raya sendiri2. Maka secara psikologis akan dengan mudah yang satu orang mengklaim gak butuh yg lain. Ikatan yg ada waktu mereka sama2 susah jadi hilang. Hubungan antar personil jadi kayak sama workmate semata, udah kayak orang kantoran aja. Istilahnya udah gak ada aura 'temen sepenongkrongan' lagi. Bukan berarti itu serta merta adalah hal yg jelek, karena pada akhirnya toh bisnis is bisnis, tapi kalo gak pandai2 mengontrol ego, ya ujungnya pasti perpecahan.
Seperti yg dibilang Thomas Ramdhan (bassist Gigi) di interviewnya di salah satu tayangan infotainment, katanya ni anak2 peterpan udah kebanyakan duit kali ya...

Ada juga pendapat, itu sekedar politik tingkat tinggi yg butuh martir... Peterpan mau launch album baru... untuk bikin marketing buzzword, mereka kasih satu isu yang akan mengangkat rating pemunculan nama mereka di media, dengan martir-nya ya personil yg dipecat itu. Nah, itu kaitannya udah sama kepentingan boss2 record label, perusahaan rekaman tempat Peterpan bernaung.

Tapi yg lebih menarik, terlepas dari kasus pemecatan tadi, justru kalo kita melihat kecenderungan industri musik kita yang disinyalir akan jadi ruwet ke depannya.
Yaitu saat manajemen artis akan dihandle oleh record label. Bukan oleh manajemen artis sendiri yg independen. Konon hal ini pula yg terjadi pada Peterpan. Kepentingan record label dan manajemen artis jelas2 bertolak belakang. Label concern ke jualan album dan memanage sustainibility perusahaan, artis concern ke sisi kreatif dan memanage penghasilan artis itu sendiri.

Ini bukan masalah mana yang salah mana yang benar, membahas siapa yg benar siapa yg salah udah kayak bahas ayam dan telor, gak ada ujungnya. Istilahnya, udah gak apple to apple... karena memang gak bisa disatuin. Record label menjadi manager artis adalah hal yang paling tidak lazim di industri musik belahan dunia manapun.

Mengapa bisa terjadi hal seperti itu..? Kasarnya sih mungkin karena baik si label ataupun si artis sama2 'serakah'. Jadi timbal balik antara artis dan label jadi gak sinergis lagi.
Contoh kasus, ada seorang produser rock terkenal di indonesia berinisial LZ, pemilik record label berinisial LR. Sebenarnya dia cukup well-respected sebagai rock-enthusiast sejati, dan punya peran penting dan jasa tersendiri dalam khazanah musik keras di tanah air.

Semua artis2nya diproduseri sekaligus dimanage oleh dia. Jadi istilahnya, kalo artisnya dapet proyek, biar duitnya gak lari kemana-mana, tapi selalu ada fee masuk ke label... kasarnya, dia gak mau artisnya kaya raya dari fee manggung, jadi bintang iklan, atau apapun.. tapi dia gak kecipratan karena cuma berhak atas penghasilan dari hasil sales album. Jadi semua lahan basah si artis, ada dalam kendali si LZ ini.

Itu bisa berjalan mulus kalau mungkin dia hanya menaungi satu dua artis yang kepopulerannya setingkat. Band rock Boomerang dulu di bawah record label LR milik si LZ ini. Bareng sama band rock lain, Jamrud. Begitu Jamrud booming dan Boomerang kurang sukses, digas terus lah Jamrud manggung kemana-mana sama si boss... Boomerang tersisih dan gak bisa manggung di luar manajemen LZ, karena terikat kontrak. Jadi jobless lah si Boomerang ini, dan seperti kita tahu, mereka kabur ke record label lain sekarang.

Itu sisi buruknya, artis bener2 dikutip setiap sen yang bisa mereka dapat dari manapun. Dan utk artis yg lagi turun pamor, jadi bener2 ringsek gak berdaya, gak bisa fleksibel mencari penghasilan. Jadi kayak dimonopoli gitu lah...

Cara kayak gini dulu banyak tidak disetujui oleh pelaku industri musik. Tapi herannya kok sekarang record label malah mau rame2 menuju kesana lagi. Kenapa ??

Karena ternyata artis2 juga banyak yang agak2 arogan ke labelnya sendiri.
Biasanya, setelah launch album, artis punya kewajiban terhadap label utk melakukan promo tour, sbg marketing effort dari label utk menggenjot sales albumnya. Dan bayaran promo tour memang jauh dibawah fee manggung2 lepasan (atau malah tak dibayar?)... soalnya ini kan sifatnya mandatory ke record label. Sebab itu, artis jadi pada males2an promo tour. Contoh, ada salah satu diva musik indonesia yang gak pernah mau promo tour, rugi, mending job manggung lainnya deh... makanya si label jadi kesal.
Gak tau diri banget lu, udah gue bikinin album, lu gak mau promo, jadi gak laku dong produk gue nantinya... gitu kira-kira pendapat si label.

Dari situ, muncullah keinginan dari label utk menghandle sekaligus manajemen artisnya. Jadi kalo dilihat mana salah mana benar... dua2nya punya benar dan salahnya sendiri2. Hehehe...

Memang industri musik kita sistemnya masih belum se-advanced di luar negeri sih... Mereka aturannya kayaknya udah rapi jali banget, baik utk kepentingan label maupun artis. Contoh lain, disini gak umum ada budaya merilis box-set anthology yg lux gitu, utnuk artis2 tertentu yang memang rentang karirnya sudah panjang... label mungkin parno kalo gak sebanding dengan sales-nya nanti, karena box-set yang mewah pasti harganya akan melonjak dibanding sekeping cd rilisan reguler. Kalo lagu2nya diketeng kan bisa lebih murah, yg otomatis pembeli lebih mudah mengakses, dan lebih banyak kemungkinan diversifikasi produknya. Jadi antara music-as-business dan music-as-art pun belum ada win-win solution-nya disini... Gitu deh kira2...

Ini sih pendapat hasil obrolan ngalor ngidul... dan bukan dari orang2 yang kompeten barangkali.. hehehe. Jadi kalo isinya nggak akurat atau mungkin salah sama sekali, ya mohon dimaafkan. Saya gak bermaksud mendiskreditkan siapapun disini. Hanya pemikiran sederhana dari penikmat musik.

Hidup musik Indonesia!

Kepada Hening Aku Titipkan


Bersama hening kurajut rahasia-rahasia…
Tentang sebuah petaka usia...
Bertajuk cinta...

Karena senyum dan sapanya...
Tak henti menjejalkan kata-kata...
Ke dalam kepala...

Mungkin memang sudah niscaya...
’pabila cinta...
selalu mengusik marabahaya...
Mungkin memang sudah niscaya...
bahwa cinta...
adalah kebodohan maha indah..

andaikan kita bisa jadi bodoh bersama-sama...

Kepada hening aku titipkan
Setiap keping rindu dendam...
Dan ronta jiwa kerontang...

Kepada hening aku titipkan
Cinta yang hampir mati...
Dan lagu-lagu tanpa penyanyi...

O, mengapa mesti...
Kita bertukar kata lagi...
Hanya untuk menyadari...

Bahwa senyummu selalu tersemat di hati...
Namun tak akan kumiliki?

Aku gelisah...
Bagai perjaka tanggung di mimpi basah pertama...
Bagai gadis bau kencur yang menangis pada diary-nya...

Seperti puisi...
Yang ditulis sembunyi-sembunyi...
Sebelum bel sekolah berdentang...

Senyum sapamu...
Penyebabnya....

Tolong katakan kau setuju...
Untuk selalu menjadi...
Fatamorgana kesayanganku...
Dan kau mungkin tak keberatan...
Jika aku...
Menjadi pengecut kesayanganmu....

(Jakarta, 2004)

Wednesday, November 08, 2006

Hollow

1.
Gadis kecil mendentingkan dawai-dawai batin...
Menari lincah di pekarangan bunga...
Lagu apa yang kau mainkan?
Mengapa tentang hati..
yang rentan bagai pecah belah?

2.
Maukah kau menjadi saksi
Bahwa kita sempat bicara
Menghidupkan waktu sejenak
Lewat kegelisahan bersama?

Bahwa kita sempat senandungkan
Tembang hati gulana
yang kita tuliskan berdua?

Maukah kau menjadi saksi
Tentang setangkai bunga
Di gersang pekarangan batin kita
yang memaksa tuk tumbuh jua?

Atau tentang helai-helai daun kenangan..
Yang mengering dan jatuh
Untuk menghumus jadi rindu?

(Leedon Heights Apartment, Singapore, 13 Agustus 2005)

Saturday, November 04, 2006

Surat Cinta Yang Tak Terkirim

Pelita hatiku...
Mungkin memang namamu...
dan namaku...
Takkan terukir dalam satu prasasti.

Tapi mungkin memang tak perlu begitu.

Mungkin memang satu atau dua mimpi
Cuma muncul jadi elemen dekorasi...
Bukan untuk diwujudkan setengah mati.

Bukankah selalu menyenangkan berandai-andai...
Apa yang disediakan oleh langkah waktu besok,
lusa, atau beberapa tahun lagi?

Tanpa harus jadi sadar dan peduli
apakah memang semua itu layak untuk diperjuangkan?
apakah memang semua itu layak untuk ditunggu?

Kenapa mesti risau?
Maukah kau jadi bodoh bersamaku?

Pelita hatiku...
Apakah kita seringkali terlalu keras berusaha
untuk dikenali dan dimengerti?
Atau kita hanya terjebak dalam persilangan ruang waktu yang canggung?
Apakah aku si orang asing yang gugup di pestamu?

Mungkin kita cuma korban...
dalam satu babak drama komedi yang tak lucu.

Tak usahlah melihat keluar jendela...
Sang waktu baru saja pergi berlibur...

Apakah itu merah noda anggur di gaun putihmu?
Atau cuma noda sesal yang itu-itu lagi?

Jangan pulang dulu, nona...
Berjabat tangan pun kita belum sempat...
Maukah kau jadi bodoh bersamaku?

Pelita hatiku...
Ketika tatap mata kita hanya mampu
untuk saling menyodorkan rahasia ke pangkuan masing-masing...
Perlukah kita buat celah pada hitam tirai jendela?
Akankah cahaya itu akan memaknai ribuan kata yang diam?
Ataukah silaunya cuma menyakitkan mata?

Kesempatan adalah duri pada bunga...
Surga pun cuma pandai menggoda...
Apakah jadi sebuah kebodohan
jika mencurigai datangnya harapan?

Akankah kita menciptakan sejarah?
Atau sejarah menggilas kita remuk redam?

Kenapa mesti risau?
Maukah kau jadi bodoh bersamaku?

Pelita hatiku...
Aku ini cuma perahu kecil..
Yang terapung di samudera tatapmu...
Diombang-ambing ombak senyummu...
Hingga kau damparkan aku di pulau tak bertuan itu...

Jatuh cinta bukanlah peran yang biasa kumainkan
dalam drama besar kehidupan ini...
Namun kau jerat aku memeluk bimbang...
berjalan meraba-raba di lorong gelap...

Apakah kau nanti...
Yang akan menanti di ujung lorong ini?

Jika ya...
lantas...
Maukah kau jadi bodoh bersamaku?